Tampilkan postingan dengan label #romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #romance. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Februari 2022

Aku Sedang Tak Percaya Diri

"Cemburu itu cuma buat orang yang tidak percaya diri."

"Jadi?"

"Ya, aku sedang tidak percaya diri."

Dilan 1990 

    Ya benar aku cemburu, tapi apakah pantas aku cemburu sedang aku bukanlah pemilikmu. Apakah pantas aku mencemburuimu saat sedang bersamanya, saat kau bersama kekasihmu. Sekalipun kamu bilang jangan, tak usah. Sebenarnya hal itu pula yang aku mau, tapi hati kadang tak bisa ku kendalikan. Kau pun juga sadar akan hal itu, dan kau masih memilih dia. Sungguh aku sangat benci jika bukan aku yang menjadi juaranya. Dahulu sempat aku terobsesi ingin merebut hatimu kembali, tapi apa benar karena aku sungguh mencintaimu atau aku hanya benci diriku yang menjadi juara kedua. Saat ini keinginan itu tak ada, biar lah mengalir seperti ini apa adanya. Sampai kapan aku harus cemburu, aku pun tak tahu. Biar waktu yang membuatku terbiasa dan membawa kita ke hilir cerita. Walau kamu bilang tak memungkiri kalau kamu juga mau, tapi aku tak ingin menyakiti siapa-siapa. Biarlah  semesta yang bekerja sambil aku terus mencari jawabnya

Minggu, 15 September 2019

SUATU CERITA DI SORE HARI #Mileyak


Sore itu aku dan Kia duduk bersebelahan di atas kursi kayu panjang di pinggir jalan, sambil menunggui bapak tukang tambal ban memperbaiki ban motorku. Tiba-tiba Kia bertanya padaku, “Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”
Aku yang duduk tepat di sampingnya yang sedari tadi melempar pandang kosong ke jalanan menjawabnya, “ Sekarang aku memfokuskan pikiranku untuk menyelesaikan pendidikanku yang tengah ku jalani saat ini agar aku bisa segera beralih untuk melangkah menuju episode hidupku yang baru. Masih banyak mimpi-mimpi besarku yang harus ku kejar..”
Good! Build your skill and capability, then man will take a line! Udah…perasaan kaya gini juga bakalan hilang dengan sendirinya kok. Kamu hanya belum menemukan atau mungkin sebenarnya sudah ada tetapi kamu masih terjebak dengan masalalu dan enggan mencoba hal baru?”
Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis dan kembali terdiam tenggelam dalam kalutnya pikiran. Jika keadaan sudah begini, aku selalu berusaha membawa semua logika-logikaku muncul. Aku percaya di luar sana, entah sekarang dimana tetapi suatu saat aku pasti akan dipertemukan dengan seseorang yang pantas untuk ku percayakan hatiku padanya. Dan hanya aku satu-satunya.
Mungkin aku bisa percayakan seseorang yang tidak membuatku sebagai pilihan, karena aku bukanlah pilihan! Jika boleh sombong, aku akan menyebut diriku perjuangan. Hh.. mungkin akan ada yang berkata, “Siapa dirimu sehingga layak untuk diperjuangkan?!”
Ya aku iyalah aku, aku sendiri tengah berjuang untuk membahagiankan diriku, pun tak ku biarkan orang lain untuk menghancurkan dengan mudahnya. Aku bisa mengerjakan apa saja dan menyapa semua orang dengan hati. Namun untuk siapa aku berikan hatiku tidak akan semudah itu. Semua perjalanan yang ku alami telah menjadi bekalku untuk berhati-hati untuk benar-benar memberikan hati.

Kamis, 15 Agustus 2019

Tuhan Bercanda (?)

***
Mileyak kembali menulis dan merenung....


Aku tahu rencana Tuhan tidak sebecanda ini, tapi mengapa perasaanku selalu dipermainkan :’
Kembali aku merasakannya kembali patah, kali ini karena kesalahanku yang mengharapkannya akan kembali. Kembali menjadi milikku seutuhnya di masa depan (itu yang ku mau). Mengapa pikiran tentang rencana masa depan bersamanya selalu terlihat indah.  Saat kurasa padang pengharapan telah berubah menjadi gurun gersang, lalu tiba-tiba ia datang mencoba memberi celah penghidupan. Namun, aku tersadar saat ini ia hanya datang  untuk sekedar lewat. Bukan tinggal dan menetap.  Kembali aku jauh hati lagi padanya, kembali aku mematahkan lagi hatiku karena tak bisa memilikinya. Jika boleh izinkan aku untuk selalu didekatnya, benar ini akan membuatku bahagia tetapi aku juga tersiksa. Tapi bolehkah aku tetap berharap semesta berpihak kepada kami? Salahkah aku jika dalam setiap doaku ada namanya yang ku harapkan. Jika Tuhan tidak sebercanda ini, lalu mengapa kami dipertemukan dalam perasaan yang sama  dengan benteng besar tinggi menjulang.

Senin, 12 Agustus 2019

Sebuah Kisah Romantis (C.I.N.T.A #4)

Mileyak menulis ....


(sumber gambar : pinterest.com)

Tidak ada yang lebih mebahagiakan dalam suatu kisah romantis, yaitu ketika sepasang kekasih sedang memadu cinta. Bayangkan betapa indahnya gayung yang bersambut dan bertepuk pun tidak lagi sebelah tangan. Aaah… bisa kau bayangkan indahnya? Menyayangi dan disayangi. Menemukan teman yang dapat beriringan seirama, menemukan rekan satu frekuensi. Tidak harus selalu sama, tetapi saling melengkapi dan bertumbuh bersama. 

Namun dalam kisah romantis ini ada juga hal yang menyakitkan, yaitu menelan kenyataan pahit bahwa di belakang sepasang kekasih ini ada berbagai pihak yang tidak menyukai hubungan mereka. Rasa sakit menghujam dalam dada ketika ingin terus bersama dengan seseorang yang  kita cinta namun harus dipisahkan dengan semesta yang belum berpihak. Pertanyaannya adalah mengapa orang lain harus ikut campur dalam merusak kisah mereka? Padahal yang menjalani ialah mereka sendiri, sedangkan orang lain hanya menjadi penonton dan komentator. Tidak bisakah membiarkan sepasang kekasih ini bahagia dengan versi mereka dan menjalani pasang surut kehidupan dengan cara mereka?

    (sumber  gambar: pinterest.com)



Jumat, 17 Mei 2019

C.I.N.T.A #3


Sumber : Pinterest

Duhai sayangku, ada sesuatu yang ku ingin ceritakan tentang dirimu. Tetapi aku takut, aku takut jika dunia juga mengetahuimu lalu ia akan merebutmu dariku. Namun aku sadar, dirimu ialah tanda keagungan Tuhan yang tak bisa aku pungkiri. Semua makhluk yang telah bertemu denganmu, mungkin juga akan setuju denganku bahwa betapa indahnya dirimu. Mungkin semua dapat menyukaimu, tetapi aku yakin tak semua dapat mencintaimu. Sekarang aku terjebak diantara : apakah aku baru sekadar menyukaimu ataukah aku sudah mencintaimu?
Sayangku, jika cinta itu berawal dari suka. Mari aku ceritakan sedikit tentang bagaimana aku menyukaimu...
Aku menyukaimu karena….
Karena sesungguhnya aku tak mengerti bagaimana harus menjelaskannya
Baiklah, aku menyukaimu ketika..
Aku menyukaimu ketika kau berdiri
Pun aku juga menyukaimu saat kau berjalan,
Dari belakang, menatap punggunmu saja mampu membuatku bahagia
Tetapi aku lebih suka jika kita berjalan beriringan…
Aku juga menyukaimu disaat kau duduk bahkan berbaring
Aku menyukai dirimu ketika kau tersenyum
Pun jika kau marah, aku masih menyukaimu
Jika pun kau membuatku marah, perasan menyukaimu mengalahkan segalanya
Sayangku, entah berapa kali aku mencoba melogikakan perasaan ini
Namun tetap saja, memikirkanmu membuatku gila!
Terlebih hal yang ku suka darimu, caramu menenangkanku disaatku gusar yang mungkin saja tak kau sadari
Terkadang kehadiranmu bagaikan hembusan angin segar
yang menentramkan netra dan raga
Sayangku, jika saat ini kau belum siap atau bahkan tak terlintas dibenakmu
Untuk melangkah lebih jauh bersamaku
Berjanjilah untuk saat ini berada di dekatku
Karena menyadari kenyataan bahwa kau akan segera pergi saja membuatku lebih tak karuan
Lalu tolong jelaskan padaku bagaimana aku bisa baik baik saja ketika kau sudah benar benar pergi tanpa mengajakku melihat dunia?

Minggu, 30 September 2018

Harus Bagaimana?



"Mau ganteng atau tidak, kalau hatinya tidak satu frekuensi, bagaimana?"

What??! Putri berbicara soal cinta?? Mungkin dari dirimu sedikit meragukanku. Karena Putri yang hampir tak terlihat mempunyai perjalanan cinta mau sok-sokan berbicara tentang cinta. Tenang gaes, tidak terlihat bukan berarti miskin pengalaman atau semacamnya. Hal ini aku dapatkan dari hasil terjun langsung ke lapangan *cieelah* dan pengamatan dari lingkungan sekitar serta hasil bertukar pikir dengan teman sejawat. Mungkin akan berbeda sedikit dengan pengalaman kalian. So... ini dia


Memasuki usia 20-an orang-orang akan berpikir bahwa mereka yang sudah mulai menginjak usia tersebut akan menjadi lebih dewasa. Entah kematangan dalam berpikir ataupun bijaksana dalam bertindak. Padahal sebenarnya umur hanyalah angka sedangkan kedewasaan dibentuk oleh pola pikir yang dipengaruhi keadaan lingkungan. Kemudian apa hubungannya dengan cerita cinta? Dalam perspektifku, ternyata umur dan pengalaman sedikit mengubah pola pikirku. Sebelumnya aku berpikir, “oke kalau mau cari pasangan hidup nanti harus punya kriteria a,b,c,blabla harus bisa a, b,c dsb” dan hal ini juga yang dapat memotivasiku untuk melakukan sesuatu agar kelak aku dapat sebanding dengan yang ku  inginkan. Namun belakangan ini di atas semua kriteria-kriteria itu ada satu hal menurutku yang menjadi dasar, dan aku setuju dengan perkataan Pak Rudy Habibie yang menegaskan tentang kesamaan frekuensi hati. Maksudku coba bayangkan jika sebuah lagu dimainkan dengan irama yang tidak senada walaupun sama-sama didukung instrumen canggih atau kaki kiri dan kananmu berjalan berlawanan arah. Apa jadinya? Seperti kamu mengajak pasanganmu untuk bercanda atau berdiskusi tetapi dia ‘gak nyambung’ , rasanya bahan pembicaraanmu sia-sia. Mungkin kamu akan mencoba bersabar untuk menyatukan frekuensi kalian, jika berhasil selamat! Jika tidak? Wassalam. Karena pasangan hidupmu bukanlah orang yang hidup denganmu untuk hari ini dan nanti sore. Tetapi adalah dia yang akan hidup denganmu hari ini, nanti, besok, besok, dan besok hingga takdir yang terelakan memisahkan kalian. Kalau para pemuda sekarang bilangnya : Visi & Misi yang sejalan atau yang lebih sering kalian dengar dengan kata ‘nyaman’. Tetapi coba pastikan lagi apakah nyamanmu ini benar-benar nyaman atau hanya sekedar ilusi cinta buta yang menganggap bahwa pasanganmu tidak memiliki kekurangan. “Mau ganteng atau tidak, jika hatinya tidak satu frekuensi, bagaimana?” ( BJ Habibie dalam film Habibie & Ainun